Pemuda itu berjalan dengan tenang menuju restoran internasional langganannya. Di restoran tersebut, segala jenis masakan dalam dan luar negeri tersedia. Pelanggannya pun tak hanya penduduk asli Indonesia saja, melainkan dari berbagai Negara, baik yang bermukim di Indonesia, mau pun turis yang sengaja dating untuk berekreasi.
Setelah pemuda itu mendapatkan tempat duduk yang nyaman baginya, ia mengambil daftar menu makanan yang tersedia dihadapannya. Lalu seorang pelayan menhampirinya.
“Aku pesan nasi goring siput special dan juga juice sawo…!” kata pemuda pada pelayan itu.
ketika ia sedang menunggu pesanannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Segera ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan berbicara. “Hello?” “Kau bersiap-siaplah, beberapa menit lagi bom akan meledak ditempat itu.” sambut suara itu dengan tenang dan penuh wibawa.
Belum sempat pemuda itu menjawab, telpon telah terputus. Segera ia beranjak dari tempat duduknya. “Hi, semuaaa! Cepat tinggalkan tempat ini! Beberapa menit lagi bom akan meledak ditempat ini…!”
Teriak pemuda itu sambil berlari keluar dari restoran. Suasana yang tadinya tenang, segera berubah menjadi gaduh. Masing-masing orang berebut keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka tak peduli dengan makanan-makanan yang telah mereka pesan, atau pun yang sedang mereka makan.
“Tunggu sebentar! Ada apa ini sebenarnya?” Tanya seorang lelaki berperawakan tinggi dan berkulit bule yang ternyata adalah pengelola restoran tersebut.
”i…i…itu, pak, pemuda itu…” jawab seorang wanita tua tergagap dan menunjuk pemuda itu.
”Ayo, nak? Coba jelaskan, ada apa ini sebenarnya sampai semua orang panic begini?”
Tanya lelaki berperawakan tinggi seraya mendekati pemuda itu.
“Ini… Pak, tadi saya menerima taelpon dari seorang lelaki. Ia memberi tahu saya bahwa beberapa menit lagi akan ada bom meledak disini.” Jelas pemuda itu. “Tapi mana buktinya? Sampai detik ini tak ada bom yang meledak.” Kata lelaki berperawakan tinggi menatap lekat kearah pemuda itu. “Sebaiknya kau jangan percaya begitu saja. Abaikan saja orang yang menelponmu itu.” tambah lelaki berperawakan tinggi itu lagi. “Baik, pak, terimakasih.”
Keadaan di restoran itu berubah menjadi tenang seperti biasanya. Pemuda itu pun kembali masuk dan duduk ditempat semula. Tak beberapa lama kemudian, pesanannya dating. Ia tak segera menyentuh makanan dan minuman yang telah tersedia dihadapannya. Ia masih memikirkan seseorang yang menelponnya tadi.
Sambil duduk bersandar, ia mengambil ponselnya dan membaca nomor panggilan masuk terakhir yang tertera pada ponselnya. “nol delapan satu, dua satu empat sembilan dua empat tiga tujuh.” Ia bergumam membaca nomor itu. ia berniat menelpon nomor tersebut. Dengan tangan gemetar, ia pun menekan tombol panggil kemudian mendekatkan ponsel ke telinganya. “Sial! Nomornya tidak aktif… dasar laki-laki pengecut!” ia menggerutu dan meletakkan ponselnya diatas meja. “Suara itu… suara laki-laki yang tenang dan berwibawa.” Batinnya. Lalu pemuda itu membayar makanan dan minuman yang telah dipesannya tanpa menyentuhnya sedikit pun. Rupanya, telpon itu membuatnya tak nyaman.
Keesokan harinya, pemuda itu dating kembali ke restoran langganannya. Ya, masih restoran yang sama. Ia duduk di tempat yang sama seperti kemarin. tapi, kali ini ia memesan menu yang berbeda. Ia hanya memesan juice apel. Pemuda itu duduk dengan tenang sambil matanya sibuk memandangi orang-orang yang lalu lalang disekitarnya.
Beberapa saat kemudian, pesanannya dating, dan langsung saja ia menghabiskan juice apelnya itu nyaris tak tersisa setetes pun. Rupanya hari ini ia merasa nyaman berada di restoran langgananya itu.
tapi, ketika ia akan beranjak, langkahnya terhenti karena ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil ponsel dan mendekatkannya ke telinga lalu berkata; “Hello?” sapanya. “Kau masih ingat dengan suaraku, kan?” wajah pemuda itu memerah. “Tentu saja aku ingat, kau yang kemarin menelponku!” jawab pemuda itu berapi-api. “Kau harus bersiap-siap untuk menyelamatkan diri dari bom yang sebentar lagi akan meledak.” Kata suara tersebut yang terdengar sangat tenang dan berwibawa di telinga pemuda itu. lalu telpon pun terputus. “Hi! Cepat selamatkan diri kalian masing-masing! Sebentar lagi bom akan meledak…!” Teriak pemuda itu.
Rupanya teriakan si pemuda cukup berpengaruh. Segera orang-orang berlarian demi menyelamatkan diri masing-masing.
Pada saat yang bersamaan, lelaki berperawakan tinggi pengelola restoran itu dating menghampiri orang-orang yang sedang berlarian. Ia berusaha untuk menenangkan suasana. “Tenang semua!” teriak lelaki berperawakan tinggi itu. “tidak akan terjadi apa-apa disini!” lanjutnya lagi.
Setelah suasana sedikit tenang, lelaki berperawakan tinggi itu memanggil si pemuda dan mengajaknya bicara empat mata. “Kamu membuat suasana di restoran ini menjadi tak karuan!” kata laki-laki itu dengan nada bicara sedikit meninggi, dan cukup mengagetkan si pemuda. “Kamu jangan memperkeruh suasana, saya kan sudah bilang, kalau ada telpon mengancam, biarkan saja, toh sampai sekarang restoran ini aman-aman saja, kan?” lanjut lelaki itu.
“Maafkan saya, pak, tapi, saya takut sekali!” jawab pemuda itu sambil menatap tajam lelaki berperawakan tinggi itu.
“Sudahlah, lain kali kamu jangan seperti tadi lagi…” kata lelaki berperawakan tinggi itu berlalu dari hadapan si pemuda.
Setelah lelaki berperawakan tinggi itu berlalu dari hadapannya, pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian ia membaca nomor panggilan terakhir di ponselnya. “nol delapan satu tiga, dua nol tujuh delapan delapan delapan lima enam. nomornya jelas berbeda dengan yang kemarin.” gumamnya. Lalu ia mencoba untuk menelpon nomor tersebut. “Uuuuh! Nomornya tidak aktif lagi!” gerutu pemuda itu.
Hari demi hari, minggu demi minggu, berjalan dengan tenang. Pemuda itu selalu menyempatkan diri untuk makan atau hanya sekedar minum di restoran langganannya. tak ada telpon yang mengganggunya lagi. Tak ada kegaduhan lagi di restoran tersebut, hingga pemuda itu merasa sangat nyaman seperti biasanya.
Siang itu, udara terasa sangat panas. Matahari terasa menyengat kulit hingga menembus pori-pori. Seperti biasa, disiang hari, pemuda itu selalu menyempatkan diri untuk makan atau minum di restoran langganannya.
“Aku pesan nasi goring siput special dan juga juice sawo…!” Kata pemuda itu tanpa melihat daftar menu makanan terlebih dahulu.
Sambil menunggu pesanannya dating, ia mengeluarkan ponsel dan melihat pesan baru di ponselnya. Ada dua pesan baru yang belum dibaca. Ia pun segera membaca pesan-pesan tersebut. “Kamu harus bersiap-siap, sebentar lagi bom akan meledak!” begitulah isi pesan yang pertama. “Ayo…, cepat selamatkan dirimu!” itulah isi pesan kedua.
Ia tersenyum setelah membaca dua pesan itu. Sebenarnya, ia merasa takut sekali dengan adanya ancaman itu,, ia khawatir kalau-kalau memang benar akan ada bom meledak ditempat itu. tapi ia berusaha untuk tenang, karena ia ingat akan pesan dari lelaki berperawakan tinggi pengelola restoran tersebut.
Belum sempat ia menyimpan ponselnya, tiba-tiba sebuah pesan baru dating. “Kira-kira satu menit lagi bom akan meledak… kalau kau ingin selamat, cepat tinggalkan tempat ini!”
Seperti itulah isi pesan baru itu. “Hmmm… apalah artinya sebuah ancaman…!” batin pemuda itu sambil memperhatikan nomor pengirim pesan. Ketika ia sedang memperhatikan nomor si pengirim pesan, tiba-tiba …. Door! Sebuah ledakan terdengar sangat keras dan menghancurkan restoran itu nyaris tanpa sisa.